Idealisme Pemuda dan Perubahan Politik

Di berbagai belahan dunia sejarah membuktikan gerakan pemuda (youth movements) - termasuk di dalamnya gerakan mahasiswa - seringkali memelopori perubahan penting dalam suatu masyarakat atau bangsa, bahkan menjadi kekuatan utama yang melahirkan revolusi yang pada gilirannya membentuk tata kehidupan baru dalam suatu masyarakat.
Revolusi pemuda di Prancis tahun 1968 misalnya bukan hanya melahirkan tatanan politik baru di negara itu, tetapi juga melahirkan gagasan- gagasan besar yang baru seperti feminisme, gerakan anti-nuklir dan ekologisme [Robert Gildea, “French Student Revolt”, dalam Jack A Goldstone (ed.), The Encyclopedia of Political Revolu- tion, Chicago & London: Fitzroy Dearborn Publishers, 1998, hlm. 185-186].
Potensi tersebut dimiliki pemuda dan kaum muda pada umumnya karena kelompok ini secara umum masih penuh dengan idealisme, semangat revolusioner dan cenderung tidak sabar dengan perubahan yang dinilai terlalu lambat. Di masa transisi dari remaja menuju dewasa, pemuda selalu berada dalam perasaan sebagai manusia ideal karena masih bersih dari kepentingan politik kekuasaan. Yang dilakukan lebih merupakan aktualisasi diri, sehingga kepentingan kekuasaan dianggap sebagai tahapan yang terlalu jauh.
Sejarah pemuda di Indonesia juga menghadirkan idealisme berikut perubahan revolusioner yang mengesankan. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 melahirkan nasionalisme bentuk baru dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pemuda juga yang mendesak segera diumumkannya proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, di saat kaum tua masih ragu-ragu untuk mengumumkannya. Benedict R O’G Anderson mencatat dalam bukunya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistence, 1944-1946 (Cornell University Press, 1972), bahwa pemuda merupakan kekuatan politik yang paling menonjol pada masa revolusi menjelang dan setelah kemerdekaan. Demikian juga pada masa-masa transisi penting seperti tahun 1966 dan tahun 1998.
Namun, harus diakui tidak semua pemuda terlibat dalam proses perubahan politik besar di masyarakatnya. Sikap politik pemuda dalam berbagai episode sejarah bagaimanapun tidak pernah seragam, tetapi plural. Dan pluralitas adalah bagian dari fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri.

Sebagian pemuda secara sadar mendedikasikan hidupnya untuk perubahan masyarakat. Sebagian yang lain beraktivitas dalam organisasi sebagai batu loncatan politik untuk mendapatkan posisi dalam pemerintahan atau partai politik. Ada juga yang karena sikap dasarnya apolitik atau karena desakan ekonomi kemudian menjalankan kehidupan secara biasa-biasa saja dengan bekerja di perusahaan, membangun usaha mandiri atau menjadi buruh biasa di lingkungannya.

Komentar

Postingan Populer