Imam Al-Ghazali
doc.google
Beliau bernama Abu Hamid Muhammad ibnu
Muhammad Al-Ghazali. Sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin.
Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan
pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan
perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum
mengerti.
Dulu, ayah beliau adalah seorang pengrajin
kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi.
Menjelang wafat dia mewasiatkan mengajari kedua anaknya kepada temannya dari
kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar
khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami
pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang
saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut
mengajari keduanya, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut.
Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan
harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua,
saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan
miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk
ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang
dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut.
Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah
diceritakan oleh Imam Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu
bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah
ta’ala.” (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6: 193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang
fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan
membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis
dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan
mereka (ahli fikih, red), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang
faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon
kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau
tersebut. Imam Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad, red)
menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Thabaqat Asy
Syafi’iyah 6: 194).
Imam Ghazali memulai belajar di kala masih
kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar-Radzakani di kota
Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr
Al-Isma’ili dan menulis buku At-Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Thabaqat
Asy Syafi’iyah 6: 195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru
kepada Imam Haramain Al-Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil
menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu
perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan
para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun
tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al-Juwaini.
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah
Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat
berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan
mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di
madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada
tahun 484 Hijriyah beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An
Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan
menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

Komentar
Posting Komentar