PENGEMBANGAN POTENSI INDUSTRI KREATIFITAS PEMUDA SURABAYA
Jawapos.com
– Industri kreatifitas tanah air terus berinovasi. Basha market, sebuah
wadah marketplace produk kreatif yang mengedepankan pengalaman visual bagi
pengunjung kembali digelar di surabaya.Tim pelaksana Basha Mrket mengecat
Ciputra World Surabaya dengan tema Merah dan Hitam untuk mempersembahkan
berbagai keajaiban kreatifitas industri pemuda surabaya pada jumat (25/11)
hingga Minggu (27/11) ini.Berbagai brand ternama dari seluruh Indonesia berpartisipasi pada Basha Arcade, Cirque yang bersiap untuk memberikan pengalaman yang mengesankan.
Selain itu, sebagai pionir onsite workshop, Basha juga membawa
seniman dari Bandung dan Jakarta untuk membagikan pengalamannya kepada
pengunjung melalui workshop yang hanya bisa ditemukan di ivent ini.
Berbagai merk seperti Calla, brand fashion milik Olivia Lazuardy
dan By Lizzie Parra, brand make up milik Lizzie Parra yang berbakat menjadi
bagian dari kegiatan kali ini.
Para mentor siap membagikan pengalamannya antara lain Resatio Adi
Putra, seniman dengan reputasi internasional dan Inez Tiara, penggagas Kelly’s
and co, sebuah brand karya seni dari kertas dan stationery yang berasal Jakarta
yang dikenal dengan lukisannya yang menakjubkan.Co-Founder Basha Market,
Christie Erin Harsono menjelaskan bahwa pihaknya ingin menjadi wadah
kreatifitas bagi segenap pelaku Industri di Surabaya dan nantinya di pasar
national dan global.
Sebagai kota dengan perekonomian kedua terbesar di Indonesia
setelah Jakarta, Surabaya memiliki pasar industri kreatif yang besar.“Pemuda
Surabaya harus bisa mendapat tempat dan diberi kesempatan untuk berkibar di
Industri kreatif.
Dari sini kita akan pelan-pelan mengembangkan pasar industri kretif,”
katanya dalam keterangan tertulis kepada JawaPos.com.Tantangan terbesar yang
hingga kini masih dihadapi adalah kurangnya pengetahuan akan industri dan
jaringan yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah platform kreatifitas yang
sukses dengan skala yang kita inginkan.
“Kami beruntung menjadi yang pertama di pasar Surabaya, tapi itu
juga membuat kami tidak punya contoh untuk ditiru. Sebagian besar dari usaha
yang kami lakukan berasal dari upaya trial and error hingga kini, tapi kami
terus belajar dan memperbaiki diri kami,” tegas Erin.(cr1/JPG

Komentar
Posting Komentar